Banner

BannerFans.com

Pages

Kamis, 02 Desember 2010

info ayam serama

Inilah ayam termungil sejagad yang telah dicatat dalam asosiasi perlindungan dan penangkaran unggas di Amerika berlabel American Poultry Association (APA) serta American Bantam Association (ABA). Keunikannya seolah menghipnotis pecinta satwa unggas di Tanah Air karena dalam 5 tahun belakangan ayam persilangan asal Malaysia ini semakin ramai diburu. Harga per ekornya jutaan rupiah. Namun nilainya akan meroket hingga puluhan juta rupiah bila menjuarai suatu kontes.
AGI penggemar unggas hias, serama bukan barang baru. Tahun 2004,  ayam mini yang postur tubuhnya berbentuk huruf S ini sempat diperkenalkan dan digemari pencinta ayam peliharaan. Namun saat itu kehebohannya baru merebak di sekitar Jawa saja. Pertama kali diperlombakan (kontes) pada tahun 2004 di Ancol, Jakarta. Sementara di kota-kota besar Sumatera, para penggemarnya belum begitu ramai.

Barulah dua tahun belakangan ini, “gelombang kedua” dari pehobi serama mulai semarak kembali. Dikutip dari data Asosiasi Penggemar Ayam Serama Indonesia (APASI), mereka yang memelihara ayam jenis ini sekarang sudah meluas ke kota-kota besar di Sumatera, bahkan juga ke Bali dan Kalimantan. 

Di Medan, kalangan penggemar serama pun tak kalah gempitanya meski masih bisa terhitung orangnya. Menurut Ahen, pemilik farm (peternakan) serama di Jalan Dahlia No 46 Medan, para maniak serama di Medan setidaknya mulai kelihatan. “Yang biasa berhubungan dengan saya, sekitar 20-an orang,” jelasnya kepada MedanBisnis saat dijumpai di lokasi farm-nya, belum lama ini.

Asmadi, rekan sehobi yang saat itu ada di samping Ahen, menyambung, pecinta ayam serama di Medan terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari usahawan, karyawan, bahkan juga mereka yang masih sekolah seperti dirinya. Salah seorang pengacara di Medan bernama Charlie Andrean SH, disebutnya, juga hobi memelihara serama.

Postur dan Keunikan
Di farm Ahen, siang itu beberapa ekor ayam serama tempak sedang berjemur di dalam sangkar besi. Semua ayam itu dipesannya langsung dari farm serama di Malaysia. Usianya relatif, ada yang 6 bulan, 8 bulan, dan setahun. Untuk mendapatkan satu ekor ia harus merogoh kocek belasan hingga puluhan juta rupiah. untuk memilih ayam serama berkualitas di Malaysia juga bukan hal mudah. Jadi menurutnya, si pembeli harus jeli melihat originalitas ayam ini.

Kenapa ayam mini ini berharga maksi?  “Ada tiga hal penting yang menentukan besarnya nilai dan mutu seekor ayam serama, yaitu struktur tubuh, warna dan gayanya,” jelas Ahen. Dalam suatu kontes, sambungnya, ayam serama yang menjadi juara biasanya langsung dilirik orang. Beberapa bulan lalu saat digelar kontes di Jakarta, serama milik Ahen meraih juara 2. Seketika itu juga ia mendapat pembeli yang berani menawar Rp 60 juta.  

Seperti apa lomba kontesnya, Ahen menerangkan, mulanya ayam serama dibawa ke atas meja catwalk. Meski badannya berukuran mini tetapi tampilannya gagah saat membusungkan dadanya hingga kepalanya tertarik ke belakang. Gaya inilah yang menjadi poin penting penilaian juri selain bentuk tubuh, keindahan bulu dan mahkota yang proporsional. Serama juga harus dilatih berkonsentrasi supaya tampil prima di atas panggung. Ia tidak boleh mematok karpet atau kabur dari panggung.

 Jadi ayam ini harus tak jemu-jemu bergaya dan berkokok lantang di atas catwalk.
Seekor serama sudah bisa ikut kontes sejak usia lima bulan. Memelihara ayam ini sejatinya tidak terlalu sulit bahkan nyaris tidak beda dengan merawat ayam biasa. Namun menjelang kontes barulah berbagai persiapan dilakukan. Di antaranya melatih ayam berenang, memberi pakan ekstra dan dikarantina.

Dari posisi samping, postur serama memang berbentuk huruf S dengan dada besar terangkat. Kepala tertarik jauh ke arah belakang. Sayapnya menjuntai tegak lurus ke bawah, dan ekor pedang panjang serta berdiri tegak. Cara berdirinya tegap dan anggun menyerupai prajurit yang sedang berbaris. Kalau terkesan petantang-petenteng mirip jagoan. Inilah keunikan yang membedakan dengan ayam hias lain yang cenderung berbadan horizontal.

Serama, baik yang jantan maupun betina, yang sudah bisa ikut kontes umumnya dibagi dua kelas. Kelas A yaitu yang memiliki bobot tubuh tak lebih dari 300 gram. Dan kelas B untuk jenis yang berat tubuhnya rata-rata 500 gram.

“Walaupun begitu, ayam ini sangat jinak, beda dengan ayam lainnya yang selalu bertingkah liar kalau mau kita tangkap,” ujar Ahen seraya mengaku karena faktor jinak itulah salah satu alasan mengapa ia jadi kepincut ayam serama.
Asal-Usul
Boleh-boleh saja antipati terhadap Malaysia. Tetapi untuk urusan ayam serama, para penggemarnya masih tetap menengok ke negeri jiran itu. Karena mau tak mau harus diakui sampai detik ini Malaysia adalah produsen serama kelas wahid. Bukan hanya produsen, negara yang punya hubungan “panas-dingin” dengan Indonesia ini pun menjadi muasalnya ayam serama.

Asmadi lantas menunjukkan buku yang isinya mengulas seputar ayam serama. Dalam ringkasan sejarahnya disebutkan, ayam ini merupakan hasil persilangan yang dikreasikan oleh Wee Yean Een, seorang penggemar ayam kate dari Kelantan Malaysia. Pria yang dijuluki Bapak Ayam Serama ini sudah hobi memelihara ayam kate sejak 1971. Saat itu ia memiliki jenis ayam kate kaki panjang yang oleh masyarakat Malaysia disebut ayam kapan. Bentuk ayam ini bertubuh ramping, tinggi, dada agak datar, dan ekor cenderung tegak lurus.

Di negeri jiran itu ayam kapan diakui sebagai salah satu ayam kate yang juga sering dilombakan. Namun ayam kapan milik Wee Yean Een ketika itu terlihat cukup unik. Sayapnya menggantung hingga menutupi kaki. Lalu ia mencoba menyilangkan ayam kapan dengan ras ayam modern game bantam yang memiliki postur badan tegap, leher panjang dan tertarik ke belakang menyerupai huruf S.

Kemudian tahun 1973 Wee Yean Een menyilangkan keturunan pertama hasil perkawinan ayam kapan dan Modern Game Bantam itu dengan jenis ayam sutera (silkie bantams). Perkawinan tersebut melahirkan ayam sutera bertubuh mungil. Tak puas sampai di situ, Wee Yean Een lalu menjodohkan keturunan dari ke dua jenis tersebut dengan ayam kate jepang yang punya warna bulu indah serta bentuk ekor berdiri tegak.

Setelah beberapa kali bereksperimen, maka pada tahun 1988, Wee Yean Een berhasil menghadirkan ayam kate dengan bobot kurang dari 500 gr. Ia lantas memberi nama “Serama” kepada ayam berbadan mungil itu. Diberi nama demikian terinspirasi setelah ia menonton pertunjukan seni wayang kulit yang menampilkan kegagahan tokoh wayang Sri Rama dalam kisah Mahabarata dan Ramayana. Wee Yean Een menyebut “Sri Rama” terdengar seperti “serama”, maka masyarakat sekitar pun akhirnya terbiasa menyebut serama.

Tahun 1990, ayam serama dipublikasikan dalam kontes pertama yang diselenggarakan di Perlis, Malaysia. Dalam perlombaan itu Wee Yean Een tampil sebagai salah satu juri. Selain di Malaysia kontes ayam serama juga banyak digelar di Thailand. Awal tahun 2000-an unggas hias ini kemudian berekspansi ke Indonesia.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting